SELAMAT GABUNG DI MEMBERS C.U.R.H.A.T. 'NTUK SALING BERBAGI DAN TERJALINNYA TALI SILATURAHMI
Memuat...

Minggu, 22 Mei 2011

Multidimensi Perkembangan Peserta Didik

A. Energi dan Kreativitas Peserta Didik
Teori perkembangan yang berpusat pada peserta didik harus mendasarkan diri pada gagasan bahwa kemampuan eksternal mereka merupakan cerminan dari perkembangan progresif dari kesadaran internal dan kapasitasnya. Perkembangan itu bukan hanya bersumber dari faktor eksternal atau akibat penciptaan dan penerapan alat atau instrumen yang lebih baik yang bersentuhan dengan mereka. Perubahan peserta didik dari luar terjadi karena mereka pada umumnya terus berubah. Premis dasar perkembangan peserta didik adalah, bahwa baik individu, masyarakat, maupun pranata lainpun yang bersentuhan dengannya terus berkembang. Peserta didik hanyalah sebagian dari ekspresi pada tingkatan yang berbeda dari proses pengembangan manusia pada umumnya.
Perkembangan dan pengembangan peserta didik terus berlanjut sejalan dengan perubahan sistem sosial dan kompleksitas kehidupan. Subtansi dan proses interaksi mereka dengan manusia dewasapun sangat kuat pengaruhnya. Perkembangan itu mengekspresikan energi dan kreatifitas peserta didik menjadi lebih efektif untuk mencapai tujuan dan masa depan mereka kelak, terlepas dari apakah hal itu sejak atau tidak dengan tujuan politik, ekonomi, sosial, atau budaya yang terus berkembang.
Kecenderungan ini berlaku juga bagi perkembangan individual peserta didik. Mengikuti pemikiran Robert Marcfarlane (1999) peserta didik secara individual mengembangkan hal itu dengan cara meningkatkan kapasitas dirinya melepaskan, mengatur, serta mengekspresikan energi dan kapasitas untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Oleh karena aspirasi, emosi, dan penalaran peserta didik masih dalam proses metamorphosis, hal ini bisa dan bisa juga tidak terkait dengan dimensi masa depan, kesejahteraan ekonomi, pengakuan sosial, pemahaman mental, atau pencerahan spiritual.
Korespodensi antara pengembangan sosial dan perkembangan peserta didik secara perorangan atau kelompok bersifat sangat kuat. Karena memang, proses sosial dan proses individual tidak hanya serupa, melainkan selalu bersentuhan. Keduanya saling bergantung. Individu peserta didik berkembang dengan dukungan aktif dari masyarakat dan pengembangan masyarakat berjalan sesuai dengan kontribusi kreatif individu. Guru orang tua, agen pembaru, kelompok startegis, dan sebagainya merupakan individu perintis yang berfungsi sebagai pemimpin untuk memperkenalkan kegiatan baru dalam masyarakat, termasuk di dunia pendidikan dan pembelajaran. Kelompok itu mewariskan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada generasi berikutnya dan itu diperoleh melalui upaya-upaya kolektif di masa lalu.
Menurut Robert Macfarlane (1999) secara umum perkembangan masyarakat melibatkan kemajuan stimultan sektor fisik, sosial, mental dan spiritual, serta budaya pranata atau organisasi yang ada dalam masyarakat. Peserta didikpun ikut terimbas dengannya. Sektor-sektor dimaksud mencakup beberapa hal. Pertama, infrastruktur lingkungan fisik, sanitasi, dan sistem transportasi. Kedua, insfrastruktur sosial, seperti keamanan, pemerintahan, produksi pangan, perdagangan, keuangan, industri, dan pendidikan. Ketiga, infrastuktur mental, media informasi, teknologi, ilmu pengetahuan, dan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. Keempat, budaya, nilai-nilai spiritual/keyakinan, dan nilai-nilai yang menentukan aspirasi dan perilaku manusia pada umumnya.

B. Lima Dimensi Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan peserta didik mengikuti alur perkembangan manusia pada umumnya. Perbedaannya, mereka menerima sentuhan lebih dibandingkan dengan tidak meniti bangku sekolah. Karena itu, peserta didik memerlukan pengembangan sesuai dengan keterampilan sikap, perilaku, pengetahuan, dan nilai pribadi anggota masyarakat. Dalam makna luas, perkembangan peserta didik mencakup lima ranah, yang secara ringkas disajikan sebagai berikut.
1. Perkembangan fisik, dimana lajunya relatif sesuai dengan faktor genetis, menu makanan, pelatihan yang diperoleh, kebiasaan hidup, dan kondisi lingkungan.
2. Perkembangan sosial, dimana anak dapat berkembang sesuai dengan bentukan masyarakat. Misalnya, anak atau peserta didik akan menjadi lebih politis, berorientasi ekonomis, dinamis, dimiliki disiplin dan bertaqwa, memiliki daya suai, dan sebagainya.
3. Perkembangan mental, dimana peserta didik tumbuh makin bermental, stabil, arif, dewasa, dan bijaksana. Sebagai bagian dari masyarakat peserta didik menjadi lebih canggih dalam aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Perkembangan budaya atau spiritual, dimana peserta didik harus menumbuhkan toleransi terhadap orang-orang dengan keyakinan yang berbeda, pengakuan hak asasi manusia, dan nilai-nilai umum.
5. Perkembangan intelektual, khususnya pergeseran dari kemampuan penalaran konkrit ke abstrak, mengolah data menjadi informasi, memecahkan masalah-masalah yang rumit, serta membuat solusi atau dasar informasi yang mirip, sama atau bertentangan.

C. Anatomi Pengembangan Peserta Didik
Pengembangan dan perkembangan peserta didik merupakan evolusi progresif dari dimensi fisik, sosial, mental, budaya dan spiritual, dan intelektual. Kelimanya tumbuh dan berkembang sebagai kesadaran dan mewujud sebagai pengorganisasian dengan kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi. Peserta didik mengatur ekspresi energi mereka pada tingkat yang berbeda dengan cara meningkatkan keterampilan, sikap, penguasaan informasi, pemahaman konseptual, dan nilai-nilai yang dianut.
Selama proses ini berlangsung sifa kesadaran manusia berevolusi dari lebih didominasi oleh dimensi fisik menjadi lebih mengandalkan dan mementingkan dimensi dan mental, spiritual, dan intelektual. Semakin tinggi tingkat kesadaran semakin tinggi pula energy dan kapasitas yang dimiliki oleh peserta didik untuk melakukan apapun yang dihadapi dan harus dilakukannya.
Pada tatana kehidupan masyarakatpun, kita melihat bahwa evolusi ketergantungan secara eksklusif bergeser dari sumber daya fisik ke peningkatan kekuatan organisasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta sumber daya mental dan spiritual. Pada diri individu peserta didik, kita melihat perkembangan yang sama dari mereka yang mengekspresikan energi nyaris secara ekslusif melalui kehidupan kerja manual ke semakin bergantung pada keterampilan sosial dan pengetahuan mental untuk meningkatkan produktivitas energi fisik mereka.

D. Dimensi Kesadaran Peserta Didik
Mengikuti logika berpikir Robert Macfarlane (1999) tentang pengembangan manusia, peserta didik memiliki tiga pusat kesadaran yang bagian-bagiannya bisa dikembangkan. Pertama, kesadaran fisik, berupa sensasi fisik, dorongan, dan kebutuhan yang mendesak. Kedua, kesadaran mental, seperti sifat gugup, dorongan psikologis, perasaan, dan emosi. Termasuk di dalamnya kesadaran diri, kesadaran akan pengetahuan, dan kemauan atau itikad baik. Ketiga, kesadaran spiritual atau rohani berupa intuisi spiritual, kebijaksanaan, dan dorongan kekuasaan yang dalam banyak kasus belum berkembang sepenuhnya.
Kesadaran itu sebaian berada di alam sadar dan sebagian lagi di alam bawah sadar. Kesadaran fisik adalah yang “paling kasar”, sebagian besar berupa alam bawah sadar, bertindak secara otonom dan sebagai respon atas kemauan mental. Kesadaran mental adalah kesadara yang paling halus dan “paling sadar”, termasuk kesadaran diri atas “sikap sadar” dan kemauan. Kesadaran spiritual hamper seluruhnya berada pada alam bawah sadar atau lebih akurat disebut supranatural.
Setiap bagian dari kesadarn itu dapat dibagi lagi menjadi dua sampai tiga subbagian yang mencerminkan tiga tingkat yang sama dalam setiap bagian, karena masing-masing berinteraksi dan dengan ekspresi perwakilan dari tiga lainnya. Masing-masing dari sembilan bagian dapat dikembangkan untuk berbagai tingkat dalam berbagai kombinasi dengan yang lain. Masing-masing kesadaran itu ada yang dominan, dengan keberadaan semua kombinasi.

E. Perkembangan Fisik Peserta Didik
Pertumbuhan dan perkembangan fisik merupakan sisi yang paling nyata dari manusia manapun, demikian juga bagi peserta didik. Menurut Catherine (2010) pengembangan fisik dimaksud antara lain mencakup perubahan dalam ukuran dan proporsi tubuh, penampilan, serta fungsi berbagai sistem tubuh. Menyertai pertumbuhan dan perkembangan terjadi juga perkembangan otak, persepsi, kapasitas motor, dan kesehatan fisik. Pertumbuhan dan perkembangan fisik peserta didik adalah unik karena semua perubahan yang terlihat dilewati hamper setiap mereka yang normal. Pertumbuhan fisik itu meerupakan hasil dari interaksi yang bersifat terus-menerus dan kompleks sebagai interaksi antara factor keturunan dan lingkungan. Dengan demikian, jika terjadi keragaman dalam penampilan fisik peserta didik hendaknya tidak mewarnai diskriminasi layanan di bidang pendidikan dan pembelajaran.

F. Kapasitas Otak Peserta Didik
Otak merupakan organ berpikir yang berkembang melalui proses belajar dan berinteraksi dengan dunia melalui persepsi dan tindakan. Stimulasi mental meningkatkan fungsi otak anak dan hal itu benar-benar melindungi merekadari penurunan kognitif, seperti halnya latihan fisik. Otak manusia mampu terus beradaptasi dan mengingat kembali apa yang telah dialami. Bahkan di usia tua, dapat tumbuh neuron baru. Penurunan mental pada skala yang besar biasanya disebabkan oleh penyakit, sedangkan penurunan memori atau keterampilan motorik umumnya lebih disebabkan oleh keterbatasan aktifitas dan kurangnya latihan dan stimulasi mental. Dengan kata lain, otak peserta didik harus terus dioptimasi dan digunakan atau mereka akan mengalami penurunan daya memori.
Bagi peserta didik, latihan mental amat penting untuk fungsi otak yang lebih baik. Ketika masih memasuki kelas-kelaa awal sekolah atau saat masih muda anak-anak melihat dunia tampak penuh dengan keajaiban, memancing kepenasaran, memunculkan 'penemuan' yang menyenangkan, bahkan juga tantangan yang menakutkan. Ketika itu otak peserta didik sedang dalam kapasitas tinggi untuk menyerap banyak bite informasi, sekaligus mengembangkan keterampilan hidup. Ledakan ini laksana belajar dalam kerangka olimpiade otak dari keseluruhan perjalanan hidup manusia.
Namun demikian, tidak seperti atlet olimpiade yang memiliki waktu terbatas untuk menunjukkan kinerja puncak mereka, otak manusia dapat terus tumbuh dan meningkatkan dengan cara memperbanyak gerakan fisik dan olahraga. Sangat mungkin inilah yang mendasari, di banyak negara jam berolahraga bagi anak-anak sekolah mendapatkan proporsi lebih dibandingkan dengan di negara lainnya.

Referensi:
- Sudarman Danim, Perkembangan Peserta Didik, Alfabeta, Bandung, 2010.
- http://fitrianur.blogspot.com

0 komentar:

Foto Saya
Tarakan, Kal-Tim, Indonesia
" Less speak more action "